Dikutip 12 Rabiul Awal 1432
Hari Senin tahun 571 M. adalah hari kelahiran Nabi
terakhir yang telah lama ditunggu-tunggu bangsa Arab. Hampir seluruh dunia
muslim memperingatinya dengan upacara yang berbeda-beda. Annemarie
Schimmel, menginformasikan kepada kita bahwa kecenderungan untuk memperingati
hari kelahiran Nabi Muhammad Saw secara besar-besaran muncul pertama kali di
Mesir selama era Fathimiyah (969-1171 M). Perayaan itu dihadiri oleh para
cerdik-cendikia dan para ulama. Mereka mendengarkan pidato tentang sejarah
Nabi. Di Irak Utara peringatan Maulid Nabi dipersiapkan sejak awal bulan
Muharram; pondok-pondok didirikan bagi tamu-tamu yang datang dari luar kota.
Oleh : Muh.Supaeni @l_mambani.srjlulum.MD
Memperingati
Maulid Nabi Muhammad Saw adalah Bukti Kecintaan Umat Islam
Hari Senin tahun 571 M. adalah hari kelahiran Nabi
terakhir yang telah lama ditunggu-tunggu bangsa Arab. Hampir seluruh dunia
muslim memperingatinya dengan upacara yang berbeda-beda. Annemarie
Schimmel, menginformasikan kepada kita bahwa kecenderungan untuk memperingati
hari kelahiran Nabi Muhammad Saw secara besar-besaran muncul pertama kali di
Mesir selama era Fathimiyah (969-1171 M). Perayaan itu dihadiri oleh para
cerdik-cendikia dan para ulama. Mereka mendengarkan pidato tentang sejarah
Nabi. Di Irak Utara peringatan Maulid Nabi dipersiapkan sejak awal bulan
Muharram; pondok-pondok didirikan bagi tamu-tamu yang datang dari luar kota.
Di Turki, masjid-masjid dihiasi dengan
lampu-lampu. Di Mesir, para penguasa Mamluk, perayaan besar-besaran untuk
memperingati Maulud diselenggarakan di pelataran benteng Kairo. (Baca:
Annemarie, Dan Muhammad Adalah Utusan Allah). Di sebagian negara
berpenduduk besar muslim, hari itu diperingati dengan menyalakan obor di
jalan-jalan sambil pawai mengelilingi kota. Hampir semua kaum muslimin di
dunia, kecuali para pengikut Ibnu Taimiyah yang setia, tidak pernah
meninggalkan tradisi ini. Ibnu Taimiyah, tokoh Islam paling ortodoks,
memandang perayaan Maulid Nabi sebagai bid'ah, mengada-ada. Pandangan ini
kemudian diteruskan dengan semangat Islam yang radikal oleh Muhammad bin Abdul
Wahab, ulama terkemuka kelahiran Nejd, Saudi Arabia, 1703-1791. Para
pengikutnya terus menyebarkan ajaran "maulid Nabi sebagai praktik
keagamaan yang sesat". Pandangan ini ditolak diseluruh dunia muslim.
Di Indonesia, perayaan maulid Nabi diselenggarakan di
surau-surau, masjid-masjid, majlis ta'lim dan di pondok-pondok pesantren dengan
beragam cara yang meriah dan dengan sejumlah acara, antara lain; khitanan masal
dan berbagai perlombaan. Malam hari tanggal 12 Maulid merupakan puncak
acara. Biasanya mereka membaca sirah nabawiyah (sejarah hidup Nabi sejak
kelahiran sampai wafatnya), dalam bentuk prosa dengan cara berganti-ganti dan
kadang-kadang dengan dilagukan. Sebagian lagi sejarah Nabi tersebut
dikemas dalam bentuk puisi-puisi yang sudah dipersiapkan. Salah satu puisi
maulid Nabi saw ditulis oleh Syeikh Barzanji. Tradisi Mauludan paling
megah dan biasanya dihadiri ratusan ribu orang diadakan di Kraton-Kraton di
Jawa. Sejak menteri Agama dijabat orang NU, konon KH Wahid Hasyim,
peringatan Maulid Nabi dijadikan sebagai hari libur Nasional dan diperingati di
Istana negara. Tahun-tahun terakhir peringatan ini diadalakan di Masjid
Istiqlal dan selalu dihadiri oleh Presiden.
Penulis sirah Nabawiyah dalam bentuk puisi yang dibaca
setiap peringatan Maulid adalah Syeikh al-Barzanji Maliki. Beliau sengaja
menulis puisi-puisi yang sederhana tetapi mempesona untuk menyambut kelahiran
Nabi Muhammad saw agar memudahkan masyarakatnya. Puisi-puisi ini
dinyanyikan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia setiap peringatan
Maulid. Biasanya puisi-puisi ini dibacakan sambil berdiri sebagai
penghormatan kepada Nabi yang dibayangkan hadir;
Aduhai Nabi, damailah engkau
Aduhai Rasul, damailah engkau
Aduhai kekasih, damailah engkau kesejahteraan
engkau
Telah terbit
purnama di tengah kita Maka tenggelam
semua purnama
Seperti cantikmu
tak pernah kupandang Aduhai wajah ceria
Engkau matahari, engkau purnama
Engkau cahaya di atas cahaya
Engkau permata tak terkira
Engkau lampu di setiap hati
Aduhai kekasih, duhai Muhammad
Aduhai pengantin rupawan
Aduhai yang kokoh, yang terpuji
Aduhai imam dua kiblat
Selain al-Barzanji, mereka juga biasa menyanyikan puisi
al-Bushairi; "Qasidah Burdah". Ibnu al-Jauzi seorang ulama
bermazhab Hanbali dengan sangat indah menggambar persitiwa kelahiran Nabi yang
agung itu.Katanya: "Ketika Muhammad lahir malaikat menyiarkan beritanya
dengan suara riuh rendah. Jibril datang dengan suara gembira. 'Arsy
bergetar. Para bidadari surga keluar menyebarkan wewangian. Ketika
Muhammad lahir, Aminah, sang ibunya, melihat cahaya menyinari istana
Bosra. Malaikat berdiri mengelilinginya dan membentangkan sayapnya ".
Peringatan Maulid Nabi adalah tradisi umat Islam di
seluruh dunia sepanjang sejarah. Ia sama sekali tidak bertentangan dengan
Islam. Jika ia salah atau sesat, niscaya seluruh dunia Islam tidak
mentradisikannya.Sungguh sangat naif, jika ada orang yang membid'ahkannya
(menganggapnya praktik yang sesat) hanya semata-mata karena Nabi tidak
menyelenggarakannya atau tidak ada pada masa Nabi. Ini adalah pandangan
yang sangat kerdil dan picik. Jika pandangan tersebut diterima secara luas,
niscaya peradaban Islam akan berhenti, lalu mati. Maka upaya-upaya
sebagian orang untuk menghentikan tradisi ini sama artinya dengan membunuh
peradaban umat manusia. "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya
memuliakan nabi Muhmmad saw, maka hendaknya kita memuliakan beliau dengan
sungguh-sungguh.
"Mencintai
dan mengagungkan Nabi adalah perintah tegas dari Allah SWT. Mengenang segala
peristiwa penting yang terkait dengan Nabi adalah dalam rangka menumbuhkan
kecintaan kepada Nabi sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Karenanya
memperingati maulid Nabi tidak bisa dikatakan sebagai amalan bid'ah sebab ada
landasannya dalam Al -Qur'an dan Hadits. "
Masuknya bulan Rabiul Awal dan menyebutnya sebagai momen
yang sangat tepat untuk menambah kecintaan kepada Nabi Besar umat Islam
Muhammad saw. umat Islam sedunia sejak dulu telah menjadikan Rabiul Awal
sebagai bulan bersejarah dalam Islam yang patut untuk diperingati. "Peringatan
Maulid Nabi saw bukanlah merupakan bentuk penyembahan kepadanya sehingga dapat
dinilai sebagai syirik kepada Tuhan. Yang umat Islam lakukan adalah memuliakan
dan mengagungkan Nabi sebagaimana selayaknya beliau sebagai makhluk terbaik
ciptaan Tuhan. Sayangnya, tidak sedikit kelompok dalam Islam yang sulit
membedakan antara memuliakan dengan menyembah
peringatan
Maulid Nabi adalah kesepakatan seluruh umat Islam sedunia sejak dulu dan terus
berlanjut disemarakkan sampai saat ini. "Mencintai dan mengagungkan Nabi
adalah perintah tegas dari Allah SWT. Mengenang segala peristiwa penting yang
berkaitan dengan Nabi adalah dalam rangka menumbuhkan kecintaan kepada Nabi
sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Karenanya memperingati maulid Nabi
tidak bisa dikatakan sebagai amalan bid'ah sebab ada landasannya dalam
Al-Qur'an dan Hadits."
Dan
saya sangat tidak sepakat dengan ulama mufti Arab Saudi yang mengharamkan umat
Islam merayakan maulid Nabi dan menyebutnya sebagai amalan bid'ah karena tidak
pernah dianjurkan Nabi dan tidak pernah dicontohkan para Khulafaur
Rasyidin.
untuk
meyakinkan kita semua berikut saya sebutkan dalil dari al-qur'an yang
membolehkan memperingati maulid nabi, baik dari al-qur'an maupun hadist
10 BUKTI DARI ALQURAN DAN SUNNAH, BAHWA MEMPERINGATI
KELAHIRAN (MAULID) NABI SAW DAPATLAH DITERIMA
1.
Perintah Meningkatkan Rasa Cinta dan Hormat kepada Nabi saw.
Dalil
Pertama, Allah swt meminta Nabi saw. agar mengingatkan umatnya bahwa sangatlah
penting bagi siapa saja yang menyatakan mencintai Allah swt untuk mencintai
Nabi-Nya juga, “Katakanlah kepada mereka, ‘Jika kalian mencintai Allah swt,
ikuti (dan cintai dan hormatilah) aku, niscaya Allah swt akan mencintai
kalian’” (3:31).
Memperingati
hari kelahiran Nabi saw. didorong oleh perintah untuk mencintai, menaati,
mengingat, dan mengikuti contoh Nabi saw., serta merasa bangga dengannya
sebagaimana Allah swt menunjukkan kebanggaan-Nya dengannya. Dalam Kitab
Suci-Nya, Allah swt begitu membanggakannya dengan berfirman, “Sungguh engkau
memiliki budi pekerti yang begitu agung” (68: 4).
Cinta
kepada Nabi saw. dapat menjadi pembeda keimanan di antara kaum beriman. Dalam
sebuah hadis sahih riwayat al-Bukhârî dan Muslim, Nabi saw. pernah bersabda,
“Tak seorang pun di antara kamu beriman, sampai ia mencintaiku lebih dari ia
mencintai anak-anaknya, orang tuanya, dan semua orang.” Dalam hadis al-Bukhârî
lainnya, beliau bersabda, “Tak seorang pun di antara kamu beriman sampai ia
mencintaiku lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.” ‘Umar ibn al-Khaththâb ra
berkata : “Wahai Nabi saw, Aku sungguh mencintaimu melebihi diriku
sendiri.”
Kesempurnaan
iman tergantung pada cinta kepada Nabi saw., karena Allah swt dan para
malaikat-Nya terus-menerus menyatakan penghormatannya, sebagaimana begitu jelas
disebutkan dalam ayat berikut, “Allah swt dan para malaikat-Nya berselawat
kepada Nabi saw” (33:56). Perintah Tuhan, “Wahai orang-orang beriman,
berselawatlah kepadanya,” segera menyusulnya, menambah jelas bahwa kualitas
seorang mukmin sangat tergantung pada dan dijelmakan dengan pembacaan selawat
kepada Nabi saw.
2. Nabi saw. Menekankan Hari Senin sebagai Hari Beliau
Dilahirkan
Dalil
Kedua, Abû Qatâdah al-Anshârî meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya
mengenai puasa di hari Senin. Beliau kemudian menjawab, “Hari itu adalah hari
saya dilahirkan dan hari saya menerima wahyu.”1
Syekh
Mutawallî al-Sya‘râwî menulis, “Banyak peristiwa luar biasa terjadi pada hari
kelahirannya sebagaimana disebutkan dalam hadis dan sejarah. Malam waktu Nabi
saw dilahirkan tidaklah seperti malam-malam kelahiran manusia lainnya.” 2
Sedangkan
menurut Ibn al-Hajj, “Adalah suatu keharusan bagi kita pada setiap hari Senin
bulan Rabiul Awal untuk meningkatkan ibadah kita sebagai ungkapan rasa syukur
kepada Allah swt atas karunia-Nya yang begitu besar yang telah diberikan kepada
kita–yaitu diutusnya Nabi saw. untuk membimbing kita kepada Islam dan kedamaian
… Nabi saw., ketika menjawab seseorang yang bertanya kepada beliau mengenai
puasa di hari Senin, menyatakan, “Aku dilahirkan pada hari itu.” Oleh karena
itu, hari tersebut memberikan kehormatan bagi bulan itu, karena itu adalah
harinya Nabi saw. … dan beliau pun mengatakan, “Aku junjungan (sayyid) bagi
semua anak-cucu Adam as, dan aku mengatakannya tanpa kesombongan” … dan beliau
pun mengatakan, “Adam as dan siapa saja keturunannya akan berada di bawah benderaku
pada Hari Peradilan kelak.” Hadis-hadis ini diriwayatkan oleh al-Syaykhâni
(al-Bukhârî dan Muslim). Muslim dalam Shahîh-nya menyatakan bahwa Nabi saw.
bersabda, “Pada hari itu, yaitu Senin, saya dilahirkan, dan pada hari itu pula
risalah pertama disampaikan kepadaku.”3
Nabi
saw. menaruh perhatian khusus pada hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah
swt, karena memberinya kehidupan, dengan berpuasa pada hari itu, sebagaimana
disebutkan dalam hadis Abû Qatâdah. Nabi saw. menyatakan kebahagiaannya akan
hari tersebut dengan berpuasa, yang merupakan sebentuk ibadah. Sebagaimana Nabi
saw. telah memberi perhatian khusus pada hari tersebut dengan berpuasa, maka
ibadah dalam bentuk apa saja untuk memberi perhatian khusus atas hari tersebut
dapat pula dibenarkan. Meskipun bentuk ibadahnya berbeda, tetapi esensinya
tetap sama. Oleh karena itu, berpuasa, memberi makan fakir miskin, berkumpul
untuk melantunkan pujian kepada Nabi saw., atau berkumpul untuk mengingat
perilaku dan budi pekerti baiknya, semuanya dapat dipandang sebagai cara
menaruh perhatian khusus pada hari tersebut.4
3. Allah swt Berfirman, “Bergembiralah dengan Nabi saw”
Dalil
Ketiga, Menyatakan kebahagiaan dengan kedatangan Nabi saw. adalah perintah
Allah swt dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya, “Dengan karunia Allah swt dan
rahmat-Nya, maka hendaklah mereka bergembira” (10:58).
Perintah
ini ada karena rasa senang dapat membuat hati merasa bersyukur atas rahmat
Allah swt. Rahmat Allah swt mana yang lebih besar ketimbang diri Nabi saw.
sendiri. Allah swt menyatakan, “Tiadalah Aku utus engkau kecuali sebagai rahmat
bagi seluruh alam” (21:107).
Karena
Nabi saw. diutus sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia, maka merupakan
suatu keharusan, tidak saja atas muslimin tetapi juga semua umat manusia untuk
merayakan kehadirannya. Sayangnya, masih ada sebagian muslim yang tampil
menolak perintah Allah swt untuk bersuka ria atas kelahiran Nabi-Nya.
4. Nabi saw. Memperingati Peristiwa-Peristiwa Besar dalam
Sejarah
Dalil
Keempat, Nabi saw. selalu membuat hubungan di antara peristiwa-peristiwa agama
dan sejarah, sehingga bila tiba suatu hari ketika terjadi suatu peristiwa
penting, beliau mengingatkan para sahabat untuk merayakan hari itu dan
menegaskan keistimewaannya, meskipun peristiwa tersebut terjadi pada masa yang
sangat lampau. Dasarnya dapat ditemukan dalam hadis berikut.
Tatkala
Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada
Hari Asyura. Beliau bertanya mengenai hari tersebut, dan beliau diberi tahu
bahwa pada hari itu Allah swt menyelamatkan Nabi mereka, yakni Musa as, dan
menenggelamkan musuhnya. Karena itulah mereka berpuasa pada hari tersebut untuk
bersyukur kepada Allah swt atas karunia ini.5
Pada
saat itu juga Nabi saw. menanggapinya dengan hadis yang terkenal, “Kita lebih
berhak atas Musa as daripada kalian,” dan beliau pun melakukan puasa pada hari
itu dan hari sebelumnya.
5. Allah swt Berfirman, “Berselawatlah kepada Nabi saw”
Dalil
Kelima, peringatan atas kelahiran Nabi saw. mendorong kita untuk berselawat
kepada Nabi saw. dan menyampaikan pujian atasnya, yang menjadi suatu keharusan
berdasarkan ayat, “Sesungguhnya Allah swt dan para malaikat-Nya berselawat
kepada Nabi saw. Wahai orang-orang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi saw
dan ucapkanlah salam kepadanya dengan sepenuh hati” (33:56). Karena datang
bersama-sama dan mengenang jasa-jasa Nabi saw. dapat membawa kita untuk
berselawat dan memujinya, maka ini selaras dengan perintah Allah swt. Siapakah
yang punya hak untuk mengingkari keharusan yang telah diperintahkan Allah swt
kepada kita melalui Alquran? Manfaat yang dibawa oleh ketaatan pada perintah
Allah swt dan cahaya yang dibawanya ke dalam hati tidaklah dapat diukur. Lebih
jauh lagi, keharusan tersebut dinyatakan dalam bentuk jamak, yaitu Allah swt
dan para malaikat-Nya berselawat dan mengucap salam kepada Nabi saw.—secara
bersama-sama. Karena itu, sama sekali tidaklah benar mengatakan bahwa membaca
selawat dan salam kepada Nabi saw. tak boleh dilakukan secara berkelompok,
tetapi harus sendiri-sendiri.
6. Pengaruh Menyaksikan Peringatan Kelahiran Nabi terhadap
Kaum Kafir
Dalil
Keenam, mengungkapkan kegembiraan dan memperingati hari kelahiran Nabi saw.,
dengan karunia dan rahmat Allah swt, dapat mendatangkan keberuntungkan bagi
orang kafir sekalipun.6 Imam al-Bukhârî menyatakan dalam hadisnya bahwa setiap
hari Senin, Abû Lahab dibebaskan dari siksaannya di alam kubur, karena ia telah
memerdekakan budak perempuannya, yaitu Tsuwaybah, pengasuh Nabi saw. Beberapa
ulama, di antaranya Ibn Katsîr dan Ibn Nâshir al-Dîn al-Dimasyqî, mengatakan
bahwa ini karena Abû Lahab sangat bergembira tatkala Tsuwaybah membawa kabar
kepadanya tentang kelahiran keponakannya itu. Meskipun demikian, agaknya
pemerdekaan ini terjadi pada saat Nabi saw sudah dewasa, yaitu pada saat hijrah
ke Madinah.7
Tentang
hal ini, Hafiz Syams al-Dîn Muhammad ibn Nâshir al-Dîn al-Dimasyqî menulis bait
syair berikut, “Bila ini, seorang kafir yang dikutuk untuk kekal di neraka
dengan ucapan ‘celakalah kedua tangannya’ (Q. 111), dikatakan menikmati masa
tenang pada setiap hari Senin, karena ia bergembira dengan (kelahiran) Ahmad
saw, lantas bagaimana menurutmu seorang hamba yang, sepanjang hidupnya,
bergembira dengan Ahmad saw, dan meninggal seraya mengucap, ‘Ahad (Esa)’”8
7. Keharusan Mengetahui Sirah Nabi saw. dan Meniru
Perilakunya
Dalil
Ketujuh, kita dituntut untuk mengetahui Nabi saw., baik kehidupannya,
mukjizatnya, kelahirannya, perilakunya, keimanannya, tanda-tanda
(kenabian)-nya, khalwatnya, ataupun ibadahnya. Tidakkah mengetahui hal-hal
seperti ini merupakan keharusan bagi setiap muslim?
Apa
lagi yang lebih baik dari merayakan dan memperingati kelahirannya, yang
mewakili babak penting hidupnya, untuk dapat memahami kehidupannya?
Memperingati kelahirannya akan mengingatkan kita tentang segala hal lain yang
berhubungan dengan kehidupannya, sehingga memungkinkan kita untuk mengenal
perjalanan hidup (sirah) Nabi saw. dengan lebih baik. Kita akan lebih siap
untuk menjadikan Nabi saw. sebagai panutan, memperbaiki diri kita, dan meniru
kepribadian beliau. Itulah mengapa perayaan hari kelahirannya merupakan suatu
karunia besar bagi seluruh umat muslim.
8. Nabi saw. Setuju dengan Syair Pujian Terhadapnya
Dalil
Kedelapan, sudah diketahui benar bahwa pada masa Nabi saw., para penyair
berdatangan ke hadapannya dengan berbagai jenis karyanya yang berisi pujian
terhadapnya. Mereka menulis dalam syair-syair tersebut tentang perang dan
panggilan jihadnya, juga tentang para sahabatnya. Ini dapat ditemukan dalam
berbagai syair yang dikutip dalam sirah Nabi saw. yang disusun oleh Ibn Hisyâm,
al-Wâqidî, dan yang lain. Nabi saw. sangat senang dengan syair yang bagus,
sebagaimana diriwayatkan al-Bukhârî dan yang lain bahwa beliau bersabda, “Dalam
syair itu ada hikmah (kata-kata bijak).”9 Paman Nabi saw., al-‘Abbâs, menggubah
sebuah syair yang menyanjung kelahiran Nabi saw, yang memuat bait-bait berikut:
Tatkala
engkau dilahirkan, bumi bersinar terang,
Dan
cakrawala benderang penuh cahayamu,
Sehingga
kami dapat tembus memandang,
Segala
syukur kupanjatkan atas sinar terang,
Cahaya
dan jalan yang menunjuki itu.10
Ibn
Katsîr menyebutkan fakta bahwa, menurut para sahabat, Nabi saw. memuji namanya
sendiri dan membacakan syair tentang dirinya di tengah-tengah Perang Hunain
untuk membangkitkan semangat para sahabatnya dan membuat takut musuh-musuhnya.
Pada hari itu beliau mengatakan: “Akulah Nabi saw! Ini bukan kebohongan. Aku
anak ‘Abd al-Muthâlib.”
Nabi
saw. merasa senang dengan orang-orang yang menyampaikan pujian kepadanya,
karena itu merupakan perintah Allah swt dan beliau pun suka memberi mereka
sesuatu yang Allah swt anugerahkan kepadanya. Allah swt sudah pasti sangat
menyenangi orang-orang yang berkumpul dan berusaha mengenali dan mencintai
Rasulullah saw.
Menyanyi
dan Membacakan Syair
Ada
keterangan kuat bahwa Nabi saw. menyuruh ‘Â’isyah membiarkan dua gadis menyanyi
pada hari raya. Beliau berkata kepada Abû Bakr, “Biarkanlah mereka menyanyi,
karena setiap bangsa memiliki hari rayanya, dan hari ini adalah hari raya
kita.” Ibn al-Qayyim berkomentar bahwa Nabi saw. juga mengizinkan menyanyi pada
perayaan perkawinan, dan membolehkan syair dibacakan kepadanya.11 Beliau
mendengarkan Anas dan para sahabatnya yang memuji-mujinya dan membacakan
syair-syair sambil menggali tanah sebelum terjadinya Perang Khandak (Parit)
yang terkenal itu; beliau mendengarkan mereka yang mengatakan: “Kitalah
orang-orang yang memberikan baiat (sumpah setia) kepada Muhammad saw untuk
berjihad sepanjang hayat.”
Ibn
al-Qayyim juga menyebutkan bahwa ‘Abd Allâh ibn Rawâhah membacakan sebuah syair
panjang yang memuji-muji Nabi saw. tatkala beliau memasuki Mekah, yang setelah
itu Nabi saw. berdoa untuknya. Nabi saw. berdoa agar Allah swt memberi kekuatan
kepada al-Hasan ibn Tsâbit dengan ruh suci sehingga ia dapat mendukung Nabi
saw. dengan syair-syairnya. Demikian pula, Nabi saw. pernah menghadiahi Ka‘b
ibn Zuhayr sebuah jubah karena syair pujiannya. Nabi saw. pernah meminta
al-Syarîd ibn Suwayd al-Tsaqafî untuk membacakan sebuah syair pujian sepanjang
seratus bait yang digubah oleh Umayyah ibn Abî al-Salt.12 Ibn al-Qayyim
melanjutkan, “‘Â’isyah selalu membacakan syair-syair yang memujinya dan beliau
pun merasa senang dengannya itu.”
Umayyah
ibn Abî al-Salt adalah seorang penyair jahiliah yang meninggal sebelum Islam
datang. Ia seorang saleh yang tidak lagi minum khamar ataupun menyembah
berhala.13 Bagian dari syair pujian yang mengiringi penguburan Nabi saw. yang
dibacakan oleh al-Hasan ibn Tsâbit, menyatakan:
Aku
katakan, dan tak seorang pun dapat menemukan cela dari ucapanku
Kecuali
orang yang telah kehilangan segala akal sehatnya:
Aku
tidak akan pernah berhenti menyanjung dan memujinya
Karena
dengan berbuat begitu, mungkin aku akan kekal di dalam surga
Bersama
Sang Pilihan, yang dorongannya untuk itu aku harapkan.
Dan
untuk mencapai hari itu, segala ikhtiarku kupertaruhkan.14
Membaca
Alquran dan Melagukannya
Ibn
al-Qayyim mengatakan dalam Madârij al-Sâlikîn,
Allah
swt telah membolehkan Nabi-Nya saw. membaca Alquran dengan cara dilagukan. Abû
Mûsâ al-Asy‘arî ra suatu kali membaca Alquran dengan suara merdu, sementara
Nabi saw mendengarkannya. Setelah ia selesai, Nabi saw. mengucapkan selamat
kepadanya atas bacaannya dengan suara merdu dan berkata: “Engkau memiliki suara
yang indah.” Beliau pun menyatakan tentang Abû Mûsâ al-Asy‘arî bahwa Allah swt
telah memberinya satu dari mizmar (seruling) Dâwud. Kemudian Abû Mûsâ ra
berkata: “Ya Rasulullah saw, kalau saja aku tahu bahwa engkau mendengarkanku,
aku pasti akan membacakannya dengan suara yang jauh lebih merdu dan lebih indah
yang belum pernah engkau dengar sebelumnya.”
Ibn
al-Qayyim juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Hiasilah Alquran dengan
suara-suaramu,” dan “Barang siapa tidak melagukan Alquran bukanlah dari
golongan kita.” Ibn al-Qayyim kemudian mengomentari:
Mendapatkan
kesenangan dengan suara indah adalah diperbolehkan, sebagaimana mendapat
kesenangan dengan pemandangan yang indah, seperti gunung atau alam, atau dari
wewangian, atau makanan lezat, selama sesuai dengan syariah. Apabila
mendengarkan suara yang indah diharamkan, maka mencari kesenangan dengan semua
hal-hal lainnya pun diharamkan juga.
Nabi
saw. Membolehkan Bermain Gendang Bila dengan Niat Baik
Ibn
‘Abbâd, seorang ahli hadis, memberikan fatwa berikut dalam Rasâ’il-nya. Ia
memulai dengan sebuah hadis,
Seorang
gadis datang kepada Nabi saw. ketika beliau baru pulang dari salah satu
peperangan. Gadis itu berkata: “Ya Rasulullah saw, saya telah bersumpah kepada
Allah swt bahwa bila Allah swt mengirim engkau kembali dalam keadaan selamat,
saya akan memainkan gendang ini di dekatmu.” Nabi saw. kemudian berkata:
“Tunaikanlah sumpahmu itu.”15
Ibn
‘Abbâd kemudian melanjutkan:
Tidak
syak lagi bahwa menabuh gendang merupakan sejenis hiburan, meskipun demikian
Nabi saw. menyuruh gadis tersebut untuk menunaikan sumpahnya. Beliau
melakukannya karena niatnya adalah untuk menyambut beliau karena telah pulang
dengan selamat, dan niatnya itu suatu niat baik, bukan niat melakukan dosa atau
membuang waktu. Karena itu, bila ada orang yang merayakan saat-saat kelahiran
Nabi saw. dengan cara yang baik dan dengan niat yang baik seperti dengan
membaca sirah Nabi dan menyampaikan puji-pujian kepadanya, maka itu
diperbolehkan.
9. Nabi saw. Menaruh Perhatian Khusus pada Kelahiran Para
Nabi
Dalil
Kesembilan, Nabi saw. dalam hadisnya memberikan perhatian khusus pada hari dan
tempat kelahiran nabi-nabi terdahulu. Sehubungan dengan keistimewaan Jumat
sebagai hari besar, Nabi saw. mengatakan, “Pada hari tersebut (yaitu Jumat),
Allah swt menciptakan Adam as.” Dengan demikian, hari Jumat diberi penekanan
karena Allah swt menciptakan Adam as pada hari tersebut. Hari tersebut diberi
perhatian khusus karena hari tersebut menyaksikan penciptaan seorang nabi dan
bapak semua umat manusia. Bagaimana halnya dengan hari ketika seorang nabi
teragung dan manusia terbaik diciptakan? Nabi saw. bersabda: “Sungguh Allah swt
telah menciptakanku sebagai Penutup para Nabi (khatam al-nabiyyîn) sementara
Adam as di antara air dan tanah.”16
Mengapa
al-Bukhârî Memberi Perhatian Khusus pada Kematian di Hari Senin
Imam
al-Qasthallânî, dalam komentarnya atas al-Bukhârî, mengatakan:
Dalam
bagian “al-Jana’aiz (Jenazah)”, al- Bukhârî menamai satu bab utuh “Mati pada
Hari Senin”. Di dalamnya ada sebuah hadis dari ‘Â’isyah as yang meriwayatkan
pertanyaan dari ayahnya (Abû Bakr al-Shiddîq ra), “Pada hari apakah Nabi saw.
wafat?” Ia menjawab: “Hari Senin.” Beliau bertanya: “Hari apa sekarang?” Ia
menjawab: “Ayah, sekarang hari Senin.” Abû Bakr ra pun kemudian mengangkat
tangannya dan berkata: “Ya Allah swt aku memohon kepadamu biarkanlah aku
meninggal pada hari Senin agar bersamaan dengan hari wafatnya Nabi saw.”
Imam
al-Qasthallânî melanjutkan:
Mengapa
Abû Bakr ra memohon agar kematiannya terjadi pada hari Senin? Karena dengan
begitu, kematiannya akan bersamaan hari dengan hari wafatnya Nabi saw.,
maksudnya untuk mendapatkan barakah dari hari tersebut … Apakah ada orang yang
akan mencela permohonan Abû Bakr ra untuk meninggal pada hari tersebut untuk
mendapatkan barakah? Pada masa sekarang, mengapa ada orang-orang yang mencela
kegiatan merayakan dan memberi perhatian khusus pada hari kelahiran Nabi saw.
dengan maksud memperoleh keberkahan?
Nabi
saw. Memberi Perhatian pada Tempat Kelahiran Para Nabi
Sebuah
hadis yang dianggap sahih oleh Hafiz al-Haytsamî menyatakan bahwa, pada malam
Isra Mikraj, Nabi saw. disuruh oleh Jibril as untuk salat dua rakaat di Bayt
Lahm (Bethlehem). Jibril as bertanya kepadanya, “Tahukah engkau di manakah
engkau melakukan salat?” Ketika Nabi saw. bertanya kepadanya “Di mana?” Ia
memberi tahu beliau, “Engkau salat di tempat Isa dilahirkan.”17
10. Ijmak Ulama tentang Peringatan Maulid Nabi saw.
Dalil
Kesepuluh, memperingati hari kelahiran Nabi saw. merupakan suatu tindakan yang
telah dan masih disepakati oleh para ulama di dunia Islam. Untuk alasan inilah,
hari tersebut dijadikan sebagai hari libur di semua negara muslim. Allah swt
tentu meridainya karena selaras dengan perkataan Ibn Mas‘ûd, “Apa saja yang
dipandang baik oleh mayoritas muslimin, itu baik di sisi Allah swt; dan apa
saja yang dipandang buruk oleh mayoritas muslimin, itu buruk di sisi Allah
swt.”18
